Kingdom Hearts - Working In Background
RSS

Cerpen : RINAI HUJAN -Entus Tralala-

 



Mendung sudah terlihat semakin gelap. Kututup gorden kamarku. Aku ambil mp3 dan headshet biru kesayanganku di atas meja. Ini saatnya untuk tidur. Kakakku tersenyum dari bingkai pintu kamarnya. “Sampai kapan kamu akan tetap menutup gorden dan hatimu Nai ?” Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Selalu begitu. Kakakku akan menanyakan hal yang sama setiap hujan akan turun dan aku hanya akan tersenyum. Rintik hujan sudah mulai terdengar. Perasaan yang sama pun mulai datang lagi. Aku takut !


“ Hai semua, maaf ya gue telat. Gue ketiduran di UKS tadi.” Aku langsung masuk ke ruang OSIS dengan santainya. Semua anak cuma bisa geleng-geleng kepala. Alasannya jelas, mereka sudah hafal sama kebiasaan burukku. Aku duduk di sebelah Irma. Ketua pun melanjutkan rapat yang ada. “ Jadi, ada yang punya ide tambahan buat pensi kita ?” Robi menanyakan ke semua anggota. “ Hmm.. gimana kalau kita tambah acara yang ada sama tarian tradisional, solanya gue liat kok konsep kita ini kurang mencerminkan budaya kita.” sahut Tegar. Usulan Tegar pun diterima dengan baik. Rapat pun akhirnya memutuskan untuk menambah acara pensi dengan usulan Tegar. Aku, Tyara, Dita, Vimma, Ais, Dea dan Irma yang akan mengisi acara itu. Kebetulan kita dulu pernah ikut lomba tari antar daerah. Satu setengah jam rapat pun berlalu, aku nunggu jemputan di depan kantin bareng Fika. “ Lo dijemput bokap Nai ?” tanya Fika “Iya” jawabku singkat lalu hening untuk beberapa saat dan Fika pun mulai membuka percakapan kembali. “ Hm..Nai, gue boleh nanya ga ?” tanya Fika “Boleh aja” jawabku masih singkat “ Lo jadian ama Tegar ya ?” seketika aku kaget “Hah ? kok lo bisa bilang gitu sih ?” “Iya, gue denger-denger dari anak-anak sih gitu, katanya sih si Tegar itu suka ama lo, dia aja dari tadi curi-curi pandang ke lo terus loh” “Masa sih, eh..gue malah ga denger apa-apa, gue ama dia aja jarang banget kontak-kontakan diluar acara ini” “Oh yaudah deh...ya gue kira aja lo emang jadian ama dia ” “Udah  deh lo ga usah dengerin gosip, anak-anak kan emang sukanya gitu” Tidak lama berselang dan klakson mobil papa membuyarkan kebosananku. Aku segera masuk mobil dan mengecup pipi papa. Ternyata ada kakak yang juga menjemput. Sebuah ketidakbiasaan, karena kakak biasa pulang dari kuliah bareng sama pacarnya. “Eh kakak, kok tumben ikut jemput ? Eqy ga jemput ya ?” tanyaku “ Ga kok” “ Nah terus ?” “ Kita kan mau pergi” “ Iya ? Kemana ? Grand Indonesia ? Apa cuma ke PIM ?” “Aduh Nai, emang kita mau shopping apa, tanya papa aja deh” pandanganku langsung beralih ke papa. Tanpa aku bertanya, papa langsung menjawab “ Kita ke pusara mama sore ini Nai” “Oh..” jawabku singkat dan langsung terdiam. Kenangan setahun yang lalu mulai terbayang dalam ingatanku. Seolah-olah semuanya kembali di depan mataku. Aku takut Ya Allah !

***

Setengah jam pun berlalu. Aku sampai di pemakaman dan langsung menuju ke pusara mama. Terlihat banyak sekali bunga mawar yang terlihat masih segar. “ Wah, ada yang habis jenguk mama juga nih” celetuk kakakku. “Ya Neng, Pak Pandu baru saja kemari, mungkin hanya selang sepuluh menit sebelum Neng datang” tiba-tiba saja penjaga pusara kepercayaan keluarga kami menjawab dari balik punggungku. Om Pandu adalah salah satu adik mama yang paling sering datang ke pusara mama. Memang, Om Pandu lah yang paling dekat dengan mama dari kecil. Sehingga tak salah bila ia sangat terpukul dengan kepergian mama. Dan itu juga yang membuat aku terus-menerus merasa bersalah dengan Om Pandu.
Papa duduk lantas membaca do’a-do’a, matanya sedikit berkaca-kaca, begitu juga dengan kakakku. Aku tidak. Aku tidak biasa menangis. Aku ingat, saat aku masih kecil, mama selalu berkata bahwa air mata nanti akan menjadi mutiara bila jatuh, persis seperti dalam dongeng putri duyung, maka dari itu, lebih baik simpan air matamu. Mama selalu berkata bahwa aku adalah anak yang pemberani dan tidak cengeng. Tapi tidak, aku rapuh. Aku tidak bisa lepas dari kenangan itu. Aku penakut ! Maafin Rinai Ma, Rinai belum bisa jadi seperti yang mama harapkan. Aku segera mengirim do’a dan surat Al-Fatihah untuk mama disusul dengan menaburkan mawar-mawar segar di atas pusara. Malam itu mutiara-mutiaraku jatuh.

***
Hari itu tujuh hari sebelum acara pensi digelar, panitia semakin sibuk mengatur segala persiapan. Tak terkecuali aku. Aku mendapat tugas menghias panggung dengan  Vimma, Ais, Ajeng, Will, dan Tegar. Kami mulai melukis di atas styrofoam.”Nai, bisa minta tolong ambilin cat itu ga ?” tanya Tegar “Yang mana Gar ?” “Itu tuh yang ada dibelakang punggungmu” “Oh..ini nih” “Makasih ya Nai” aku hanya menjawab dengan senyuman. Tiba-tiba Will nyeletuk “ Ciyeeeh...” “Ih..apaan sih lo” jawab Tegar “Udah deh, ngapain sih lo masih nutup-nutupin segala” “Maksud lo apa sih Will ?” tanyaku dengan tampang kebingungan “Dia itu naksir lo dari dulu kali Nai, hahaha masa lo ga nyadar juga” “Ah...ngaco deh lo” “Suer deh !” “Eh..udah deh. Jangan didengerin Nai, biasa Will emang suka ngibul. Lanjutin kerja aja biar cepet kelar” jawab Tegar dengan muka merah karena malu. Will makin semangat menggoda Tegar. Akhirnya aku tahu, Tegar memang menyimpan perasaan ke aku. Dan tiba-tiba saja hatiku tersenyum karena itu. Tegar anak yang terkenal pintar dan ramah di sekolah. Tampangnya pun tak perlu diragukan. Banyak cewek yang berusaha jadi pacar Tegar. Lamunanku tentang Tegar langsung hilang setelah Vimma menepuk pundakku. Aku kembali sibuk. Tetapi, sejak saat itu, Tegar tidak pernah lupa mampir ke dalam pikiranku. Aku pun makin hari makin dekat dan akrab dengan Tegar. Apa ini namanya jatuh cinta ?

***

Kedekatanku dengan Tegar berlanjut hingga malam itu. Malam yang dingin tanpa bintang. Mendung. Dan aku tidak suka. Tapi aku menerima ajakannya untuk makan malam bersama.” Kak, baju ini kira-kira pantes ga ?” tanyaku pada kakak sambil memilih salah satu baju dari dalam lemari “Ampun deh, emang kamu mau makan dimana sih ?” “Nah, masalahnya aku juga ga tau tuh ka, hehehe” “Baju yang kamu pilih itu terlalu formal tau, kamu coba aja pake ini” jawab kakak sambil mengambil terusan bunga-bunga dan sweter ungu. “Ini lebih kasual, tapi tetep sopan kok” kata kakak sudah seperti fashion stylist sungguhan. Aku pun memilih baju yang dipilihkan kakak. Aku pamit ke papa dan menunggunya di ruang tamu. Tidak beberapa lama terdengar bel pintu berbunyi. Aku semangat membukakan pintu. Dugaanku benar. Memang Tegar yang datang. Setelah Tegar meminta izin ke papa dan kakak, kita pun langsung pergi menuju PIM. Kami banyak diam selama perjalanan, hanya sesekali Tegar menyanyakan tentang hal-hal kecil yang aku suka, dan aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya. Setelah sampai di PIM, kita langsung menuju ke salah satu  cafe. Aku hanya memesan spaghetti. Dan dia memilih ayam cordon bleu. “Kamu yakin cuma mau pesen spaghetti Nai ?” “Ya” “Udah kenyang ya ?” “Ga kok, aku emang ga biasa makan banyak kalo makan malem” “Diet nih ceritanya ?” “Ye...ga kali. Aku ga suka diet-dietan kaya cewek-cewek lain, kata kakak ga baik buat pertumbuhan kita yang masih remaja” “Bener banget kakakmu Nai, aku aja heran ngeliat cewek yang bela-belain ga makan cuma biar bisa dapetin body bagus” “Mereka gitu biar mereka makin disayang sama pacar-pacar mereka Gar” “Ah masa sih ?” “Iya, yang biasa aku tau sih gitu” “Hahaha, pengen ketawa deh suer, asal kamu tau ya Nai, cowok-cowok tuh sebenernya lebih suka ngeliat cewek yang apa adanya loh daripada yang menghalalkan segala cara demi keliatan cantik” “Nah, aku pikir juga gitu, tapi biasalah anak-anak seumuran kita, masih belum pada bisa pede”. Obrolan pun semakin berlanjut. Tak berasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Kami memutuskan untuk pulang. Pertokoan di PIM pun satu persatu mulai tutup. Aku berjalan bergandengan dengan Tegar menuju ke parkiran, tiba-tiba mataku tertuju ke luar kaca mall. Hujan ! Seketika genggamanku terlepas. Wajahku pias. “Kamu kenapa Nai ?” tanya Tegar “Hmm..gapapa kok, eh Gar, bisa ga kalo kita ga usah balik dulu” “Maksud kamu ?” “Iya...kita ngopi dulu atau ngapain lah” “Ini udah malem loh Nai, aku ga enakan sama papa kamu” “Gapapa kok, papa bilang asal ga sampe jam dua belas. Diluar masih hujan Gar” “Emang kalo hujan kenapa ? rada macet sih, tapi aku tau jalan pintas dari sini kok” “Ga Gar, bukan itu masalahnya. Pokoknya kita disini aja dulu ya Gar. Please” “Kalo kamu maunya gitu ya ga masalah sih, kita tunggu di Tony Jack aja sekarang sampe hujannya reda. Kamu mau ?” “Ya, makasih banyak ya Gar” “ Ga masalah kali Nai, cuma rada heran aja, kenapa seorang Rinai Hujan ga mau pulang pas lagi hujan ? hahaha, udah yuk !” Tegar benar, kenapa seorang Rinai Hujan takut dengan hujan ? Aku masih menyimpan alasannya. Yang pasti aku rasakan adalah satu hal yang sama. Takut !

***

Hujan baru reda setelah setengah jam berlalu. Aku sampai rumah pukul sebelas malam. Papa dan kakak sudah terlelap. Aku segera cuci muka dan bersiap untuk tidur. Tetapi mataku tidak bisa terpejam, aku pun iseng-iseng menyalakan televisi, berharap ada acara bagus yang akan sedikit menghibur. Channel pertama yang aku tekan memuat sekilas berita malam. Sambil mendengarkan aku menjawab sms yang masuk di handphoneku. “Pemirsa...badai La Nina yang terjadi di Samudera Pasifik membawa dampak buruk bagi Indonesia untuk setahun kedepan. Hujan akan terus mengguyur wilayah nusantara dan diperkirakan akan menyebabkan kebanjiran dan tanah longsor...” Lagi-lagi tentang hujan. Hatiku kembali tak tenang, aku matikan televisi, aku paksakan untuk tidur. Lebih cepat terlelap itu lebih baik. Ya Allah, hilangkan segala kenangan buruk tentang Rinai dan hujan, Rinai takut Ya Allah !

***
Hari yang ditunggu-tunggu seluruh warga sekolah pun akhirnya tiba. Yaitu hari dimana acara pensi sekolah digelar. Acara disambut dengan meriah. Panitia sibuk mengatur agar acara berjalan sesuai harapan. Band sekolah mulai tampil. Cewek-cewek berteriak kisteris saat Arfan, sang vokalis mulai menyanyikan lagu. Aku ada di belakang panggung, membantu panitia lain yang sibuk merias para cheerleader sekolah. Tiba-tiba Vimma menepuk punggungku “Lo belum dirias Nai ?”tanyanya “Buat?” “Ya nari lah sayang, ya ampun, semua udah pada dirias loh, tinggal gue ama lo aja yang belum” “Ya Ampun, iya ya, kok gue jadi lupa gini. Emang kita tampilnya kapan sih ?” “Habis cheerleader tampil ntar ada band indie yang tampil baru kita deh. Sekitar satu jam lagi lah” “Oh..gini deh, biar gue selesaiin ini dulu ntar gue susul lo. Kita diriasnya dimana ?” “Di kelas gue” “Yaudah deh, lo gapapa kan duluan ?” “Kalo gue sih ga masalah. Lo jangan lama-lama ya datengnya !” “Sip” “ Gue duluan. Bye !” “Bye”. Aku segera menyelesaikan merias Tiwi. Setelah itu aku segera menuju ke kelas XI IPA 3, kelasnya Vimma. Disana sudah ada semua anak yang akan tampil, mereka sesekali mengulangi tarian yang akan ditampilkan. Vimma sudah hampir selesai dirias. Aku segera duduk di dekatnya dan Mbak Helwa mulai meriasku. Setelah seperempat jam aku tidak bisa berkutik di depan Mbak Helwa, aku dan anak-anak yang akan tampil segera menuju ke dekat panggung seperti saran Mbak Enes. Aku duduk di salah satu kursi plastik sambil melihat cheerleader yang masih beraksi. Aku kipas-kipas wajahku agar rias yang aku pakai tidak luntur. Terdengar suara tepuk tangan yang meriah setiap cheerleader melakukan satu aksi tertentu. Tetapi, semua itu perlahan lenyap karena satu hal. Gerimis mulai membasahi atap panggung. Walaupun seluruh tempat penonton tertutup, tetapi cipratan air tidak bisa dihindari. Panitia pun menenangkan suasana yang ada. Cheerleader dengan profesionalnya masih beraksi, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai gelisah. Tanpa orang-orang sadari aku segera menjauh dari kerumunan. Aku berlari jauh ke dalam gedung sekolah. Hanya satu tujuanku, UKS. Aku duduk diatas salah satu kasur, mencoba mengatur nafasku. Gerimis berganti hujan. Tapi tampaknya keributan penonton sudah bisa diatasi. Semua kembai menikmati acara yang ada. Aku hanya diam. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju ke arah jam dinding yang ada. Dan aku pun sadar, tidak lama lagi aku harus tampil. Aku harus bagaimana ? Masa bodohkah ? Hati kecilku berkata bahwa bagaimanapun caranya aku harus tampil. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun, terutama Tegar. Apa hanya karena seorang Rinai Hujan yang tidak dapat berdiri dalam hujan semua hal jadi berantakan. Tapi....aku masih takut !

***
Lima belas menit berlalu. Aku tahu, anak-anak pasti kebingungan mencariku. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Tegar masuk ke dalam UKS. Aku segera memalingkan wajah. “Kamu kenapa Nai ?” tanyanya lembut “Semua anak nyariin kamu dari tadi loh. Aku yakin kamu pasti ada disini.” lanjutnya. Dia menunggu jawabanku, tapi aku masih diam. “Nai?” tanyanya lagi “Tinggalin aku sendiri Gar, aku masih ga enak badan” “ Badan atau hatimu yang sakit Nai?” Deg ! jawabnya menusuk dalam hatiku. “Nai, sejak kita jalan waktu itu, aku tau Nai. Aku tau apa yang kamu rasain selama ini. Nai, kenangan, baik atau buruk, memang harus selalu kita ingat. Tapi bukan berarti kan kamu harus terpuruk sama kenanganmu sendiri. Semua itu bukan salah hujan Nai, juga bukan salahmu. Aku tau kamu ngerasa bersalah banget. Tapi aku yakin mama kamu bakal lebih bahagia disana kalo ngeliat Rinai Hujan dan Rintik Gerimis nya juga bahagia. Nai, hujan itu sebuah anugerah loh. Selama ini siapa yang ngebuat tanah subur lagi ? Siapa yang buat bunga mekar lagi ? Hujan kan ? Nai, aku juga mau kamu jadi kaya hujan, yang benar-benar memberikan kesegaran bagi semua. Sekalipun hujan kadang ngebuat banjir lah, longsor lah, toh itu semua juga salah manusia sendiri kan. Hujan ga pernah salah sama siklus hidupnya. Nai, aku cuma mau kamu bangkit dari semua ini. Pelan-pelan, aku yakin kamu bisa ! aku tunggu kamu diluar sana Nai...baik-baik” seketika tangisku pecah. Setetes demi setetes mengingatkanku akan setahun yang lalu.

***
Sore itu saat aku pulang sekolah, aku menunggu papa seperti biasa. Tapi ternyata papa tidak bisa datang menjemputku. Papa masih ada rapat penting di kantor. Jadilah mama segera pergi menjemputku dari rumah nenek. Hari itu hari ulang tahun Om Pandu, kami sekeluarga ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah nenek, maka tak heran bila seluruh anggota keluarga ikut sibuk. Di tengah perjalanan, hujan deras mengguyur ibukota. Aku tahu mama pasti senang. Mama suka sekali dengan hujan, maka dari itu mama memberi nama kakak Rintik Gerimis dan aku Rinai Hujan. Kami biasa berdiri bersama di balkon saat hujan datang. Menghirup aromanya dalam-dalam. Bau hujan memang dapat mengingatkan kita akan memori-memori di masa lalu. Mama sering menceritakan pengalamannya saat SMA. Dan itu selalu membuat aku dan kakak tak ingin beranjak barang sedikitpun. Hujan terus mengguyur tanpa lelah. Dan itu semua membuat jalan yang sudah macet menjadi semakin tak terkendali. Mama dengan sabar melewatinya. Lalu mama mendengar suara handphone yang berbunyi. Itu bunyi dari sms yang aku kirim. Mama pun lantas menelfonku. “Assalaamualaikum” terdengar suara mama “Ya Ma..Waalaikumsalam..mama masih lama ga ?” “Ga kok...mama ga lama lagi..sabar ya sayang..ini jalanan masih macet banget...disana juga hujan kan ?” “Ya Ma” “Kalo gitu kamu tunggu di dalam gedung aja ya...baik-baik ya sayang..mama..BRAK !” tiba-tiba terdengar suara keras dan telfonpun mati. Perasaanku sudah tidak enak. Aku coba hubungi mama berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Aku sedikit berpikir positif bahwa mungkin saja sinyalnya sedang tidak bagus atau mama memamng benar-benar sibuk menyetir. Tapi ternyata dugaanku salah. Setelah satu jam aku menunggu di sekolah, Om Lingga menjemputku dan langsung membawaku ke rumah sakit. Mama memang mengalami kecelakaan yang cukup parah. Ada mobil yang berusaha menghindari becak yang jalan melawan arus. Mobil itu langsung banting setir ke arah kanan, ke arah mobil mama. Keributan pun terjadi. Mobil mama rusak parah. Dan...seketika itu juga nyawa mama tak terselamatkan ! Aku hanya bisa menangis saat itu, begitu juga dengan anggota keluarga yang ada. Bahkan kakak berkali-kali jatuh pingsan. Sejak saat itu aku membenci hujan, membenci namaku sendiri, merasa bersalah pada mama, papa, kakak, dan semua orang, tak terkecuali Om Pandu. Sama seperti Tegar, papa dan kakak terus-menerus memberitahuku bahwa semua itu bukan salahku. Itu semua adalah takdir Allah yang memang tak bisa dihindari. Tapi tidak ada satupun yang dapat membuka hatiku, tak ada yang bisa membuatku untuk kembali mencintai hujan seperti dulu. Tapi sekarang, hatiku menerimanya.

***
Kata-kata Tegar masuk jauh ke dalam hatiku. Membuatku terus-menerus berfikir. Dan aku sadari, tahun ini aku 17 tahun. Umur yang orang-orang bilang sudah masuk masa dewasa. Haruskah aku terpuruk dalam kenangan itu ? Tidak, tidak lagi. Aku hapus air mataku. Aku tenangkan pikiranku sejenak. Lalu aku berlari ke arah lapangan. Wajah anak-anak lega melihatku kembali. Mereka menanyakan kemana aku pergi “Udah...lo ga mesti tau deh, yang penting sekarang kita tampil semaksimal mungkin. Sorry ya gue pergi gitu aja, kalian jadi bingung deh. Sorry banget ya !” “Gapapa kali Nai, sip, bener kata lo, sekarang kita berusaha tampil terbaik aja” kata Tyara. Setelah pembawa acara memanggil, kami segera naik ke atas panggung. Alhamdulillah, tangisku tak membuat riasanku begitu hancur. Anak-anak antusias dengan penampilan kami dan aku senang karena itu. Setelah turun dari panggung, aku mencari-cari seseorang yang memberikanku semangat kembali. Aku terus melihat ke setiap sudut, tetapi hasilnya nihil. Tiba-tiba pembawa acara mengumumkan bahwa ada seseorang yang bersedia membawakan sebuah lagu di atas panggung, ya, dia Tegar. Tegar duduk dengan gitarnya dan dia mulai menyapa penonton terlebih dahulu “Halo guys, gue disini, akan ngebawain lagu buat lo semua dan spesial untuk rinai hujan  yang nurunin kesegarannya buat kita semua. Hujan dari Utopia.” Lagu pun mengalun dengan indah. Wajahku memerah dan senyumku mengembang seketika. Ya Allah, terima kasih karena Kau telah menghadirkan Tegar yang memberikanku ketegaran dan untuk hujan  yang selalu memberikan kebaikannya. Disini, aku, Rinai Hujan, dapat berdiri kembali dalam hujan.

***

Epilog
Malam itu Tegar susah untuk memejamkan mata. Keheranannya dengan sikap Rinai masih hadir dalam pikirannya. Sampai datanglah sms itu. “Halo, ini Tegar ya ?” “Ya, ini siapa ya?” “Rintik, kakaknya Rinai” “Oh, iya aku Tegar kak, kenapa ya kakak sms aku malem-malem gini ?” “Aku ganggu ya ? Maaf ya, aku cuma mau nanyain apa dia baik-baik aja tadi pas jalan sama kamu ?” “Biasa tuh kak, ya emang sikapnya rada aneh sih pas liat hujan. Kenapa ya kak ?” Obrolan itu pun berlanjut hingga tengah malam. Rinai salah, ternyata kakaknya belum tidur. Rintik memang menunggu Rinai pulang, lantas menunggunya hingga terlelap dan mencari nomor Tegar di kontak handphonenya. Rintik pun sebenarnya hanya ingin menanyakan hal itu, tapi tanpa disadari, obrolan pun berlanjut hingga akhirnya Tegar mengetahui masa lalu Rinai. Keheranannya pun lenyap. Dan sejak saat itu, Tegar berjanji akan berusaha menjalankan amanah Rintik dengan baik. “Gar, jagain adekku ya.Aku ga tau kenapa, tapi aku yakin, kamu bisa buat Rinai senyum lagi kaya dulu.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi : Mengisi Gundah


Tipak tiluh perasaan menyongsong
Bukan berarti aku sedang patah hati
Namun kali ini aku gunda
Sepi ruang ini tak diisi penuh cinta
Ingin ku buka gembok dan ku tempel parfum ruang
Bukan berarti hati ini sedang pengap
Namun hanya ingin merubah nasib

Siang hari ia hilang seperti panggilan tugas
Bukan, namun ia menemani pujaan
Heran tak disangka
Bukan hancur malah luluh
Gemercik cobaan menggampar raut hatiku
Asa tak kuasa menahan
Bagai rumput dibelah setengah


Kemudian apa ini?
Ini cinta bukan?
Mengharapkan akan datang dengan sendiri
Menghampiri ruang yang sepi
Mendustai usaha pedih memang
Yasudah, itu buatmu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS